Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Manfaat Penggunaan TIK dalam Pembelajaran Matematika

Manfaat Penggunaan TIK dalam Pembelajaran Matematika
  Penerapan TIK dalam dunia pendidikan matematika pada dasar menyesuaikan dengan karakteristik matematika. Dimana karakteristik matematika memiliki objek kajian abstrak dan membutuhkan daya berpikir logis yang pada dasarnya adalah pemicu awal munculnya teknologi komputer yang berasal dari mesin hitung, kalkulator. Jauh sebelum munculnya istilah-istilah yang ada pada teknologi komputer yang cakupan diantaranya adalah program-program/software-software komputer yang semakin banyak berkembang,  pembelajaran matematika sudah memanfaatkan kalkulator sebagai media pembelajaran. sebagaimana diungkapkan oleh Yaya S. Kusumah dalam pidato pengukuhan guru besarnya bahwa sudah saatnya komputer diberdayakan untuk kepentingan pembelajaran matematika; bukan saja menyelesaikan masalah-masalah matematika, tetapi juga memberi bantuan tentang cara penyampaian materi matematika itu sendiri dengan cara-cara yang menarik, menantang, dan memperhatikan perbedaan individual siswa.
         Pada dasarnya program-program komputer khususnya untuk program atau software yang dapat digunakan dalam pembelajaran matematika, didalam pemanfaatnnya sangatlah luas, baik untuk pembelajaran pada siswa dengan kategori jenjang rendah dan sedang yang masih memerlukan penyajian konkrit, yang dapat membantu hal-hal yang abstrak, maupun pada pembelajaran matematika pada jenjang yang lebih tinggi, ketika memasuki konsep-konsep seperti kalkulus, geometri, Numerik, diskrit serta peluang dan statistic pemanfaatan software-software seperti, Mathematica, Maple, Matlab, fortran, Basica, Geometer Skechtpad, Cabri, Minitab, SPSS, Microsoft dan lain-lain berdasarkan hasil-hasil penelitian menunjukkan dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi serta minat belajar matematika. Jika melihat karakteristik matematika, memang beberapa materi seperti Metode Numerik ataupun program linear pemanfaatan media komputer sangat perlu karena pada kasus-kasus yang lebih kompleks perhitungan yang diilakukan manual sangat tidak efektif dan efisien.
            Hasil sebuah penelitian yang di publikasikan pada sebuah jurnal internasional yang dilakukan oleh Neil Soiffer, Ricky Concro, dan Dana Li, bahwa terdapat sebuah program/software komputer yang bukan hanya dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran matematika oleh orang-orang normal, namun program tersebut akan sangat bermanfaat bila digunakan oleh orang-orang yang memiliki keterbatasan penglihatan atau cacat cetak (misalkan: buta, daya lihat rendah/ rendah penglihatan (low vision), ketidakmampuan untuk membaca disebabkan oleh cacat otak (dyslexia), dll) pada saat mereka akan menggunakan rumus-rumus matematika. Ini termasuk kemampuan untuk mengubah matematika dalam membuat kemampuan berbicara atau system tulisan dan bacaan yang dapat diraba dan digunakan (Braille). Program/software komputer tersebut merupakan salah satu produk dari Design Science (Desci), yang diberi nama dengan program MathPlayer.

Namun ada beberapa kekurangan yang terdapat dari TIK dalam pembelajaran matematika yaitu ;
Pertama, siswa yang sudah ahli dalam TIK khususnya software matematika, siswa akan malas menggunakan otaknya untuk berpikir karena ada yang lebih praktis yaitu dengan menggunakan software Matematika.
Kedua, beberapa siswa berpikir belajar jadi lebih sulit karena menambah persyaratan kemampuan baru yaitu teknologi komputer.
Ketiga, dibutuhkan pengajar dengan keahlian khusus tentang komputer
Sumber:
http://ferinoz.blogspot.com/2012/10/manfaat-penggunaan-tik-dalam_4.html


MATEMATIKA DAN CARA MENGAJARKANNYA

MATEMATIKA DAN CARA MENGAJARKANNYA

Jika merunut catatan sejarah, Matematika telah lahir sejak 3000 SM yaitu pada saat Bangsa Mesir Kuno dan Babilonia mulai menggunakan aritmetika, aljabar, dan geometri untuk keperluan astronomi, bangunan dan konstruksi, perpajakan dan urusan keuangan lainnya. Sistematisasi matematika menjadi suatu ilmu, baru terjadi pada zaman Yunani Kuno yakni antara tahun 600 dan 300 SM. Sejak saat itu matematika mulai berkembang luas, interaksi matematika dengan bidang lain seperti sains dan teknologi semakin nampak. Kini, matematika telah menjadi alat penting dalam berbagai hal. Hampir setiap bidang ilmu dan teknologi memakai matematika. Dalam realita yang demikian, penguasaan terhadap matematika menjadi syarat perlu agar dapat mempertahankan eksistensi di era perkembangan ilmu dan teknologi sekarang ini.

Pembelajaran matematika secara formal umumnya diawali di bangku sekolah. Sementara itu, matematika di sekolah masih menjadi pelajaran yang menakutkan bagi para siswa. Di antara berbagai faktor yang memicu hal ini adalah proses pembelajaran yang kurang asyik dan menarik. Model pembelajaran yang sering di temui pada pembelajaran matematika adalah proses pembelajaran bercorak “teacher centered”, yaitu pembelajaran yang berpusat pada guru. Sehingga guru menjadi pemeran utama dan kehadirannya menjadi sangat menentukan. Pembelajaran menjadi tak dapat dilakukan tanpa kehadiran guru. Siswa cenderung pasif dan tidak berperan selama proses pembelajaran. Sehingga proses yang muncul adalah “take and give”. Dalam merangkai pembelajaran, guru pada umumnya terbiasa dengan model standar, yakni pembelajaran yang bermula dari rumus, menghapalnya, kemudian diterapkan dalam contoh soal.

Model pembelajaran yang demikian tidak memberi ruang bagi siswa untuk melakukan observasi (mengamati), eksplorasi (menggali), inkuiri (menyelidiki), dan aktivitas-aktivitas lain yang memungkinkan mereka terlibat dan memahami permasalahan yang sesungguhnya. Model seperti ini yang mengakibatkan matematika bak kumpulan rumus yang menyeramkan, sulit dipelajari, dan nampak abstrak.
Bagaimana Sebaiknya Matematika Diajarkan?

Matematika adalah ilmu realitas, dalam artian ilmu yang bermula dari kehidupan nyata. Selayaknya pembelajarannya dimulai dari sesuatu yang nyata, dari ilustrasi yang dekat dan mampu dijangkau siswa, dan kemudian disederhanakan dalam formulasi matematis. Mengajarkan matematika bukan sekedar menyampaikan aturan-aturan, definisi-definisi, ataupun rumus-rumus yang sudah jadi. Konsep matematika seharusnya disampaikan bermula pada kondisi atau permasalahan nyata. Berikut tahapan pengajaran yang dapat dilakukan:
  1. Siswa dibawa untuk mengamati dan memahami persoalan terlebih dahulu. Selanjutnya perkenalkan beberapa definisi penting yang harus dipahami agar siswa memiliki bekal untuk memahami fenomena-fenomena yang mereka temukan di lapangan.
  2. Ajak siswa untuk melakukan eksplorasi, mencoba-coba, dan biarkan mereka melihat apa yang terjadi. Di sini akan ada proses memunculkan ide-ide kreatif yang boleh jadi diluar dugaan guru. Di sinilah ruang kreatifitas terbentuk. Siswa akan lebih menikmati proses pembelajaran yang dilakukan.
  3. Biarkan siswa membuat hipotesis/dugaan atas apa yang mereka lakukan.
  4. Guru bersama siswa membahas kegiatan yang dilakukan. Berikan kesempatan pada para siswa untuk mempresentasikan hasil pengamatan mereka. Kemudian baru dilakukan proses verifikasi, meluruskan apa yang sudah dilakukan sehingga muncul formula atau rumus atau model yang dapat dijadikan rujukan ketika siswa menemukan persoalan serupa.
  5. Satu hal yang juga tidak kalah penting adalah proses mengapresiasi. Seandainya hipotesis yang diambil oleh siswa ternyata kurang tepat maka guru hendaknya tetap memberi apresiasi. Dengan seperti itu, maka siswa akan tetap terpacu motivasinya.


Sebagai contoh dalam pembelajaran mengenai perbandingan trigonometri . Pembelajaran trigonometri sering kali ditakuti karena yang nampak ke permukaan adalah simbol-simbol dan rumus-rumus yang abstrak. Adapun maknanya jarang diangkat dan dipahamkan kepada para siswa. Perbandingan trigonometri sesungguhnya berawal dari persoalan nyata. Berikut salah satu alternatif pengajaran yang dapat dilakukan:
  1. Guru terlebih dahulu menjelaskan definisi-definisi penting sebagai bekal bagi mereka untuk melakukan observasi dilapangan.
  2. Selanjutnya minta para siswa untuk mengukur tinggi benda-benda seperti tiang bendera, pohon, bangunan kelas, dan lain-lain. Biarkan mereka berekslporasi menemukan caranya sendiri. Dari sisni tentu akan ada beragam cara yang diusulkan siswa agar dapat mengukur tinggi benda-benda tersebut. Dalam hal ini guru bertugas mengakomodir berbagai respon yang muncul, membimbing, dan mencoba mengarahkan para siswa agar tidak terlalu keluar dari wilayah yang dijadikan tujuan.
  3. Berikutnya guru dapat mengarahkan siswa untuk menerapkan perbandingan trigonometri dalam permasalahan tersebut. Misalnya akan diukur tinggi pohon P. Minta salah seorang siswa, katakanlah siswa A, berdiri dalam jarak tertentu terhadap benda yang ingin diukur ketinggiannya. Misalkan jaraknya x meter. Dengan bantuan klinometer dapat diketahui besarnya sudut yang dibentuk oleh siswa A dengan pohon P, katakanlah sudut yang dibentuk adalah ?. Dengan menggunakan aturan tangent, dengan mudah akan diperoleh tinggi pohon P. yakni:
Tinggi pohon P = x tan(?)

  1. Ajak siswa membandingkan efektifitas dan tingkat kemudahan berbagai macam cara yang diperoleh melalui kegiatan tersebut. Dari sini akan diperoleh gambaran bahwa matematika khususnya perbandingan trigonometri dapat mempermudah menyelesaikan permasalahan yang ada.
  2. Kegiatan pembelajaran dapat diakhiri dengan meminta siswa menuliskan rangkaian kegiatan yang dilakukan hingga hasil akhir yang dicapai. Dengan ini, kemungkinan besar siswa dapat lebih memahami konsep perbandingan trigonometri.


Proses pembelajaran seperti ini, jika terus dilakukan dan dikembangkan dalam berbagai topik pembelajaran matematika , dimungkinkan akan menciptakan pembelajaran matematika yang lebih asyik dan menarik, sekaligus mengikis pencitraan buruk dan menakutkan yang melekat padanya.

Sumber: http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=MATEMATIKA%20DAN%20CARA%20MENGAJARKANNYA&&nomorurut_artikel=448

Strategi Belajar Mengajar Matematika

Tugas Mata Kuliah
Strategi Belajar Mengajar Matematika
Pengampu : Bp. Arianto


Description: I:\UMS LOGO baru.gif

Oleh :
Nama
: Sri Yuni Setiyawati
Nim   
: A410090044
Kelas 
: IV A


PROGRAM STUDI MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN  ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2011

BAB I
PENDAHULUAN
Dalam pembinaan guru tentu harus mengacu pada kompetensi guru, terutama kompetensi profesional berkaitan dengan proses pembelajaran. Sejalan dengan perkembangan teknologi serta teori-teori pembelajaran, maka guru juga dituntut mampu menguasai dan memilih strategi pembelajaran yang tepat, sehingga menjadikan siswa aktif, kreatif, dan belajar dalam suasana senang serta efektif. Guru tentu juga harus menguasai strategi/ metode/ teknik pembelajaran/bimbingan yang up to date. Bila guru sudah ketinggalan, apa lagi hanya mengandalkan pengalaman tanpa didukung teori-teori, maka peserta didik tidak dapat mengembangkan kemampuannya secara maksimal. Hal-hal seperti inilah yang merupakan faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas dan kuantitas pendidikan yang ada di Indonesia.
Oleh sebab itu, guru harus mempunyai srategi atau cara untuk mewujutkan siswa aktif, kreatif, dan belajar dalam suasana senang serta efektif dalam pembelajaran. Yang dimaksud dengan strategi belajar mengajar adalah kegiatan guru dalam proses belajar mengajar yang dapat memberi kemudahan atau fasilitas pada siswa agar dapat mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan.













BAB 2
PEMBAHASAN
STRATEGI BELAJAR MENGAJAR MATEMATIKA
Strategi belajar mengajar adalah kegiatan guru dalam proses belajar mengajar yang dapat memberi kemudahan atau fasilitas pada siswa agar dapat mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Devinisi yang lain mengatakan bahwa strategi belajar mengajar itu terdiri atas semua komponen materi prngajaran (paket pengajaran) dan produk yang akan digunakan untuk membantu siswa mencapai tujuan.
Menurut Bloom tujuan pengajaran meliputi tiga kawasan belajar (learning domain) yaitu kognitif (kemampuan atau pengetahuan), efektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan). Tujuan kognitif meliputi enam aspek yaitu: pengenalan, pemahaman, penerapan analisis, sintesis dan evaluasi. Tujuan pengajaran kawasan belajar afektif ada 5 tingkat yaitu: penerimaan akan sikap atau sintesis, merespon, menilai sikap, mengatur sikap dan menginternalisasi sikap. Tujuan belajar psikomotor terdiri dari 5 tingkat yaitu: persepsi atas rangsangan, kesiapan, bertindak secara fisik, respon yang terarah, respon yang mekanis dan respon yang disadari.
Secara umum ada empat strategi dasar dalam belajar mengajar yang meliputi hal-hal berikut:
1.    Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian peserta didik sebagaimana yang diharapakan. Sasaran yang dituju harus jelas dan terarah. Oleh karena itu, tujuan pengajaran yang dirumuskan harus jelas dan konkret, sehingga mudah difahami oleh peserta didik.
2.    Memilih system pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat. Memilih cara pendekatan belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif untuk mencapai sasaran serta bagaimana guru memandang suatu persoalan, konsep, pengertian, dan teori apa yang guru gunakan  dalam memecahkan suatu kasus, akan mempengaruhi hasilnya.
3.    Memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan oleh guru dalam menunaikan kegiatan mengajarnya.
4.    Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan atau kriteria serta standar keberhasilan sehingga dapat dijadikan pedoman oleh guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya akan dijadikan umpan balik untuk penyempurnaan sitem instruksional yang bersangkuatan secara keseluruhan.

A.      Klarifikasi Strategi Belajar Mengajar
Menurut Tabrani Rusyan ada 9 klarifikasi Strategi Belajar Mengajar yaitu:
1.    Konsep Dasar Strategi Belajar Mengajar
Konsep dasar strategi belajar mengajar meliputi beberapa hal yaitu:
a.    Menetakan spesifikasi dan kualifikasi perubahantingkah laku.
b.   Menentukan pilihan berkenaan dengan pendekatan terhadap masalah belajar mengajar.
c.    Memilih prosedur, metode, dan teknik belajar mengajar.
d.   Menerapakn norma dan kriteria keberhasilan kegiatan belajar mengajar.
2.    Sasaran Kegiatan Belajar Mengajar
Pada tingkat sasaran atau tujuan yang universal, manusia yang diidamkan tersebut harus memiliki kualifikasi sebagai berikut:
a.    Pengembangan bakat secara optimal.
b.   Hubungan anatarmanusia.
c.    Efisiensi ekonomi.
d.   Tanggung jawab selaku warga nwgara.
3.    Belajar Mengajar Sebagai Suatu Sistem
Belajar mengajar selaku suatu system instruksional mengacu pada pengartian sebagai seperangkat komponen yang saling tergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan.



4.    Pola-pola Belajar Siswa
Pola-pola belajar siswa meliputi:
a.    Signal learnig (belajar isyarat)
b.   Stimulus response learning (belajar stimulus-respon)
c.    Chaining (ranatai atau rangkaian)
d.   Verbal association (asosiasi verbal)
e.    Discrimination learning (belajar kriminasi)
f.    Concept learning (belajar konsep)
g.   Rule learning (belajar aturan)
h.   Problem solving (memecahkan masalah)
5.    Memilih Sistem Belajar Mengajar
Berbagai sistem pengajaran yang menarik perhatian akhir-akhir ini adalah: equiry-discovery approach, expository approach, mastery learning, dan humanistik education.
a.   Equiry Discovery Approach
Equiry Discovery Approach adalah belajar mencari dan menemukan sendiri.
b.   Expository Learning
Dalam sitem ini guru menyajikan dalam bentuk yang telah dipersiapakan secara rapi, sistematis dan lengkap, sehingga peserta didik tinggal menyimak dan mencernanya saja secara tertip dan teratur.
c.    Mastery Learning
Dalam kegiatan Mastery Learning ini guru harus menusahakan upaya-upaya yang dapat mengantarkan kegiatan peserta didik kearah tercapainya penguasaan penuh terhadap bahan pelajaran yang diberikan.
d.   Humanistic Education
Karakteristik pokok metode ini anatara lain bahwa guru hendaknya jangan menbuat jarak terlalu tajam dengan siswanya. Guru harus menempatkan diri berdampingan dengan siswa sebagai senior yang selalu siap menjadi sumber atau konsultan yang selalau berbicara. Taraf akhir dari proses balajar mengajar menurut pandangan ini adalah “self actualization” seoptimal mungkin dari setiap peserta didik.
e.    Pengorganisasian Kelompok Belajar
Memperhatikan berbagai cara pendekatan atau sistem belajar mengajar seperti diuraiakan sebelumnya, di sarankan pengorganisasian dibentuklah kelompok-kelompok belajar.

B.       Implementasi Belajar Mengajar
Hal-hal yang dilakukan guru dalam melaksanakan tugas proses belajar mengajar adalah:
1.    Perencanaan instruksional, yaitu alat atau media untuk mengarahkan kegiatan-kegiatan organisasi belajar.
2.    Organisasi belajar yang merupakan usahakan menciptakan wadah dan fasilitas-fasilitas atau lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan yang mengandung kemungkinan terciptanya proses belajar mengajar.
3.    Menggerakkan peserta didik merupakan usaha memancing, membangkitkan dan mengarahkan memotivasi belajar siswa. Penggerak atau motivasi disisni pada dasarnya mempunyai makna lebih dari pada pemerintah, mengarahkan, mengaktualkan dan memimpin.
4.    Supervise dan pengawasan, yakni usaha mengawasi, menunjang, membantu, menugaskan dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan perencanaan instruksional yang telah di desain sebelumnya.
5.    Penelitian yang bersifat penafsiran (assessment) yang mengandung pengertian yang lebih luas di banding dengan pengukuran atau evaluasi pendidikan.
C.      Metode, Teknik, Pendekatan Pembelajaran
Untuk menghasilkan proses belajar mengajar yang maksimal, guru memang tidak cukup mengandalkan rancangan yang telah dibuatnya. Guru harus tetap mencari metode dan strategi pembelajaran yang tepat. Untuk itu seorang guru dapat menggunakan metode, teknik, model, pendekatan pembelajaran yang tepat yaitu sebagai berikut:
1.    Metode merupakan upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah di susun tercapai secara optimal. Metode yang dapat di gunakan dalam mengajar matematika antara lain:
a)   Metode ceramah
b)   Metode diskusi
c)   Metode pemberian tugas ( retirasi )
d)  Metode brain storning
2.      Teknik mengajar mrupakan penerapan secara khusus atau metode pembelajaran yang telah disesuaikan dengan kemampuan dan kebiasaan guru, ketersediaan media pembelajaran serta kesiapan siswa. Misalnya mengajarkan perkalian dengan penjumlahan berulang.
3.      Model pembelajaran mempunyai pengertian yang amat dekat dengan strategi pembelajaran. Membedakan model pembelajaran dengan strategi maupun metode adalah memiliki 4 ciri khisus yaitu:
a)      Rasional teoritikyang logis yang disusun penciptanya.
b)      Tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.
c)      Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat berhasil.
d)     Lingkungan belajar yang diperlukan gar pembelajaran tercapai.
4.      Pendekatan merupakan tititk tolak atau sudut pandang kita terhadap proses belajar. Pendekatan atau prosedur yang harus di lalui di dalam mengajar antara lain:
1)  Pendekatan deduktif  yaitu pendekatan dari umum ke khusus.
2)  Pendekatan Induktif yuatu pendekatan dari khusus ke umum.
3)   Pendekatan Sintetis yaitu prosedur mengajar di mulai dari yang di ketahui kemudian melangkah dengan logika dan akhirnya menemukan atau mendapatkan hal-hal yang ditnyakan.
4)   Pendekatan Analisis yaitu pendekatan yang di mulai dari yang tidak di ketahui kemudian melangkah dengan runtut sehingga mendapatkan hal-hal yang ditanyakan.
5)   Pendekatan Paikem yaitu pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Dengan pendekatan ini guru tidak lagi menjadi pusat belajar tetapi sebagai fasilitator sehingga peserta didik dapat aktif dalam proses belajar mengajar. Contoh pembelajaran paikem yaitu jigsaw, STAD, TGT dan lain-lain.
6)   Pendekatan Kontekstual ( contextual Teaching and Learning ) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang di ajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
7)   Pendekatan Spiral dalam pembelajaran matematika adalah pembelajaran konsep dimulai dengan benda-benda riil konkret, kemudian pada tahap yang lebih tinggi konsep itu diajarkan lagi dalam bentuk pemahaman yang lebih abstrak.
8)   Pendekatan prosedural yaitu strategi pengembangan materi pembelajaran berdasarkan aras urutan penyelesaian suatu tugas pembelajaran.
9)   Pendekatan penemuan terbimbing, dalam pendekatan ini siswa didorong untuk berfikir sendiri sehingga dapat menemukan prinsip umum berdasarkan bahan yang di fasilitasi guru.





BAB 3
   PENUTUP
A.    Kesimpulan
Agar proses belajar mengajar dengan baik, maka guru harus mengerti keadaan dan kondisi peserta didik sehingga dapat menggunakan metode, model, pendekatan dan strategi pembelajaran yang sesuai, guru juga harus bisa menjalin hubungan yang harmonis, serta guru harus paham betul materi yang akan di ajarkan.
B.     Saran
Seorang guru harus mampu mengembangkan kompetensi dan mengaktualisasikan potensi peserta didik. Selanjutnya, guru juga akan berusaha mencari strategi untuk menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik.
















DAFTAR PUSTAKA
Hamalik, Oemar. 1990. Metode Belajar dan Kesulitan-Kesulitan Belajar. Bandung: Tarsito.
Ibrahim R, Syaodih S Nana. 2003. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Joyce Bruce. Et al. 2000. Models of Teaching. 6th Ed. Allyn & Bacon: London.
Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Media Prenada.
Sudjana, Nana. 1989. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru.
Nasution. S. 2005. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Yamin, Martinis. 2006. Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Jakarta: Gaung Persada Press.





 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. yuni jleq - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger